Sentakan

telah terurai sejarah, layaknya cacing mengurai tanah
melulu seperti itu
sejak dulu, memang begitu
yah, tetap saja seperti itu
sehingga kita harus tertumbuk pada jalan yang tak kunjung usai
tak beranjak, tak pula beringsut
kangenlah yang selalu mengingatkan akan sebuah kehilangan
menyergap sepi dalam kesendirian
menegaskan kata yang tak bermakna
seperti langkah yang tak pasti dan sempoyongan
sampai hari ini, luka kembali kita sayat-sayat
sebab teriakanpun tak lagi bisa menampung kelukaan yang tak pasti
kesurupan namun juga tak pasti, apalagi bernilai
rindu, kangen,
lalu pelan dan pasti kita berangkulan, bertubrukan
jatuh dan tersuruk dalam sepi

Makassar, 27 November 2000

~ oleh Muhammad Syariat Tajuddin di/pada 22 Juli 2009.

Tinggalkan Balasan