Kecupan yang Kepagian
tak tahu berawal dari mana
tak tahu akan berankhir dimana
karena satu kamu telah hadir
kita satu dalam atmosphere ketidak tahuan
kita pecah dalam ektasy ketidak mengertian
dan kita hanya bisa memaknai dengan segenap rasa dan nurani
seperti kais dan laila, seperti sampek dan engtai, seperi romeo dan yuliette
para dewa bersiul mafhum
para pecinta mulai menggelandang
para pemikir mulai menganalisa
kita nikmati saja hari ini, macam bumi yang setia dicucup akar tetumbuhan
luka, luka, luka, luka, luka, luka
selamat pagi cinta dan nuraniku
selamat malam duhai naluriku
ayo kita gelitik rasa ini
sembari menterjemahkan sajak-sajak kahlil gibran dan mahfudz
biar kita sibak tabir dengan kegamangan
Makassar, 28 September 2000

Tinggalkan Balasan