Insiden
dengan angkot aku pulang, kepada gadis putih yang berok mini
larut telah mengepak sayap-sayapnya
tangis mengisyaratkan usainya sebuah pertikaian
rambut dan parfum mengisyaratkan sebuah gelitikan
tapi tak tahu malam ini rembulanmu akan rebah dimana
pada pantat basah ditumpahi buih bir
katamu barusan kamu dikeloni
ayo kita pulang ke rumah batinku malam ini
biar pipi ranummu yang basah
kusapu dengan kumisku yang mulai mengeras
seraya menunjukkan kelewang tetuahku
yang membantai di sebuah insiden dini hari
biar hati tak lagi gundah mengurai sejarah, mempetakan masa depan
jangan takut kamu mengangkang sebab hidup butuh ketegasan
bukan mimpi yang abu-abu
pagi sekali kamu pamit yang tersisa hanya buih bir
tumpah di kumisku yang mulai meletih
mengisyaratkan kelewangku telah mengurai sejarah masa lalunya
dengan insiden kecil pembantaian di sebuah dini hari yang menggigil
Makassar, 8 November 2000

sebuah sajak cermin yang menyentak—