Bulan Mengunyah Bumi

lengang dan sepi kudatang lagi di kampung ini
kesiur busorbusor mendebat rembulan yang merana

layangan itu menggapai rembulan
tepat ketika rembulan ingin mengunyah bumi
karena bumi tak lagi damai oleh ulah kaum bar-bar

“lebih baik aku menelan bumi,” kata rembulan dengan senyum menyeringai

gersang benar kampung ini seperti kematian tanpa obituari

rembulan terpeleset dan terperosok ke dalam sungai
terbawa arus hingga ke akhir muara yang asin dan amis

lusuh, dingin dan kumal, bulan menepi dikerubuti layangan
layangan menusuk, menabrak dan menerabas rembulan

dipusar labirin yang meliuk dalam kecepatan cahaya

Kandeapi, 15 September 2000

~ oleh Muhammad Syariat Tajuddin di/pada 18 Juli 2009.

2 Tanggapan to “Bulan Mengunyah Bumi”

  1. Puisi yang luarbiasa, semoga Tuhan merestui karya-karya besar anda untuk melengkapi khasanah kepustakaan di negeri kita.

    Tetaplah semangat dan terus berkarya.

    • trims atas respon dan afresiasinya dalam jejak catatan yang tertinggalnya di blog ini… salam sukses dan takzimku untuk Andul Malik Azir…salam kreatif…

Tinggalkan Balasan