Yang Tersisa Dari Pemilu Legislatif

“Tuttssss,tutssss, tutssss, halo siapa ini. Waduh susah, aku lagi di Makassar ini ……Loh, tadi barusan saya liat anda keluar dari gedung……..di sini (Polmas—pen) itu. Loh kok tiba-tiba anda di Makassar”. Begitu dialog saya melalui ponsel dengan salah seorang anggota dewan  yang juga didapuk jadi ketua umum salah satu badan yang ‘mengomando’ lembaga kesenian di daerah ini, ketika itu.

Cukup lucu, dahsyat dan hebat benar memang, anggota dewan kita ini sebab dalam hitungan detik, tiba-tiba ia ada di Makassar, sementara dalam kalkulasi matematis jarak sekitar 400 km Polmas-Makassar sungguh tidak mungkin ditempuh dalam bilangan detik. Entahlah kalau ia menunggangi Buraq, kendaraan yang digunakan Rasulullah dalam perjalanan Isra’ Mi’raj. Dan tentu itu in possible alias absurd digunakan oleh manusia biasa. Apalagi seorang anggota dewan propinsi utusan daerah ini.
Saya yang memang orang kecil dan melakoni hidup sebagai pekerja teater dan nyambi jadi penulis untuk konsumsi beberapa media cetak, sempat melongo dan kebingungan. Sebab yang pasti ketika itu saya hanya ingin mendiskusikan perihal kerja-kerja teater yang kebetulan digelar oleh BKKNI Propinsi di Soppeng kala itu. Dan Polmas yang memiliki Komunitas Teater sungguh sayang kalau melewatkan acara yang berbilang langka di jagat perteateran. Tapi sudahlah saya mesti belajar mafhum untuk itu, sebab saya juga tidak mungkin akan men-generalisir bahwa seperti itulah patron sikaf dan watak para birokrat dan bahkan petinggi Parpol kita.
***
Dalam bilangan bulan, suara sang wakil rakyat kita—entah apa betul mewakili rakyat—itu tiba-tiba menyeruak kembali di musim jelang Pemilu dengan beragam racauan dan derasan jargon dan janji-janji. Yah mulai dari mengatasnamakan putra daerahlah, hingga pada konsistensi dan komitmen moralnya kepada pembangunan dan kebudayaan masyarakat yang bakal diwakilinya—katanya. Mereka semua datang dan minta dicoblos, padahal ketika duduk hampir tidak pernah ada ruang untuk bercengkerama renyah dan garing dengan masyarakat konstituennya. Ketika rakyat datang kepadanya terlalu banyak pertimbangan yang ia kemukakan, mulai dari APBD belum tergarap, hingga pada alasan bahwa program yang kita kemukakan tidak masuk dalam digit anggaran. Tetapi kini, kemana-mana menebar senyum sumringah. Mulai dari tukang ojek, tukang becak bahkan kelas yang paling terpinggirkan dari negeri ini pun didekati. Alasan dan tendensinya sangatlah sepele, bagaimana rakyat tadi  mencoblos tanda gambar dan nama mereka yang ada di kertas suara. Yang untuk itu mereka siap memberikan apa saja, tanpa dibarengi lagi dengan dalih APBD dan Belum ada digit rill untuk itu. Atau “saya lagi di Makassar.” Bahkan tidak tanggung-tanggung uang dari koceknya sendiripun tak jarang rela ia keluarkan. Padahal masyarakat tidak tahu persis bahwa bisa saja uang yang ia keluarkan adalah uang hasil korup. Yang nota bene berasal dari uang rakyat juga. Celakanya lagi, terkadang satu orang atawa satu suara dihargai dengan beras 3 kilo atau mie instant serta baju kaos partai yang harganya dibawah 10 ribuan. Pokoknya cobloslah aku, begitu derasan racauan mereka. Sementara rakyat yang juga tidak tahu menahu dengan realits kerja-kerja kongkrit mereka setelah duduk pun manut saja dengan apa yang mereka kemukakan. Realitas sejarah telah banyak mencatat, bahwa hampir tidak pernah ada satu pun pemilu yang digelar di Indonesia yang betul-betul demokratis—kecuali tahun 1950-an—dan sanggup memilih putra putri terbaik bangsa untuk duduk disinggasana. Yang paling sering ada,  adalah  bahasa, “ayoo coblos aku dan makanlah punyamu wahai rakyatku yang goblok-goblok.”
Tetapi kali ini tentu kita berharap lain, artinya gerak langkah demokrasi dan tatanan politik sehat betul-betul dapat terwujud, kendati tidak ada satu orang dan lembaga pun yang sanggup menggaransi bahwa pemilu kali ini juga akan jauh lebih sukses dibandingkan dengan pesta demokrasi sebelumnya. Dan Dewan kita yang mulia dan terhormat tidak lagi menempatkan rakyat di bagian komunitas yang sontoloyo, dan pendulum tidak mesti berbalik kembali.
***
Alhasil jika kita kembali ke anggota dewan kita yang tadi, aku jadi kebingungan sendiri, bagaimana mungkin seorang anggota dewan yang maha dahsyat loncatan kendaraannnya—semoga sebangun dengan pikirannya—dapat mewakili sebuah masyarakat yang belum tentu percaya dengan kecepatan kendaraan manusia biasa yang melebihi cahaya. Jangan-jangan masyarakat yang akan diwakilinya nanti tiba-tiba juga dapat ia sulap berubah menjadi semacam alien yang sikap, watak dan pengabdiannya hampir menyaingi para malaikat dilain waktu dan dikali lain bisa melebihi iblis yang seiblis-iblisnya.
Atau saya curiga anggota dewan kita ini, selain memiliki kendaraan yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya, juga memiliki kemampuan super natural dan bisa menjadi semacam Popeye yang setelah memakan bayam (baca : uang rakyat) lantas berubah menjadi pahlawan yang berotot dan tak tertandingi oleh bajak laut dari daratan atau lautan apapun. Entahlah, yang pasti untuk saya dan semoga juga anda, mungkin akan berpikir sekian kali untuk menentukan pilihan. Karena kita  tentu percaya bahwa bahasa yang menyatakan hayoo cobloslah aku, tidak tuntas hanya di TPS saja, sebab beban moral terhadap masyarakat konstituen yang mencoblos, seyogyanya bahkan wajib hukumnya, dipertanggung jawabkan pula secara moral. Kalau memang yang datang ke kita dan mencalonkan diri jadi anggota dewan itu adalah manusia, bukan alien yang juga bisa berubah menjadi malaikat dan iblis sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
***
Tetapi tampaknya realitas berkata lain, sebab setelah usai Pemilu legislator yang tadi kemudian dinyatakan lolos dan menjadi wakil rakyat. Bahwa berjubel pertanyaan yang mengitari otakku kemudian tidak serta merta dapat terjawab seketika. Mulai dari, apa iya legislator yang macam itu akan dapat mewakili kita. Hingga pada pertanyaan, apa iya rakyat betul-betul menginginkan ia duduk dan menjadi wakilnya untuk menyuarakan kepentingan-kepentingannya. Atau apakah rakyat kita memang hanya butuh baju kaos, sembako, dan uang belanjaan yang hanya cukup untuk beli permen saja. Sehingga dengan enteng merelakan pilihannya jatuh ke pada legislator yang melebihi malaikat dan iblis sekaligus. Ataukah memang rakyat juga tengah bersiap-siap untuk menjadi alien yang tiba-tiba rela untuk disulap dan menerima segenap realitas-realitas yang ditentukan oleh remote control para punggawanya—bukan wakilnya—di dewan ?
Pendek kata, semoga ini bukanlah pertanda bahwa rakyat kita tengah berada dalam sebuah labirin kebingungan yang yang tak jelas lagi, akan memulai mengurainya dari ujung mana. Tidak sebagai apatisme politik. Terakhir, dengan getir kita harus berujar selamat datang kepada para legislator kita di pentas politik. Rakyat menantimu, tidak hanya untuk menunggu bahwa kelak permen, baju kaos dan sembako di pentas pemilu legislator lima tahun ke depan akan kembali menjadi ikon-ikon kegoblokan kita mengafresiasi demokrasi.(mst)

Catatan : sebelumnya tulisan ini pernah dimuat di Radar Sulbar

~ oleh Muhammad Syariat Tajuddin di/pada 3 Juli 2009.

Tinggalkan Balasan