Visit Indonesia Year 2008, Sulbar Apa Kabarmu ?
Menonton Grand Lounching Visit Indonesia Year 2008 Program Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI di Metro TV yang ditayangkan belum lama ini, membuat pikiran saya sontak melayang pada suasana hiruk pikuk keramaian yang kelak akan membuat tak sepetakpun tanah dari wilayah Indonesia yang tidak akan ditandangi oleh para turis manca negara maupun turis asing.
Mulai dari bandara, pelabuhan dan terminal akan diramaikan oleh orang-orang asing, lengkap dengan kamera tas jinjing atau ransel hingga ke pedalaman-pedalaman yang tersuruk dari hiruk pikuk, klakson, dan desingan pesawat yang take up.
Mandar atau kini Sulawasi Barat sebagai bahagian dari Indonesia tampaknya juga akan mengalami hal yang serupa, dimana bendi, dan kuda beban, rakit dan jembatan gantung di area-area pedalaman juga akan di penuhi oleh orang-orang yang aneh yang semula sama sekali tidak pernah kita liat mereka-mereka. Segera warga pun akan dipaksakan untuk memahami bahasa-bahasa asing tadi, juga kantung-kantung keuangan daerah akan segera bergerak naik.
Tidak berlebihan memang, sebab dari beberapa buklet dan panduan pariwisata yang diterbitkan baik di tingkat provinsi maupun di kabupaten hampir semuanya menawarkan eksotika dan keindahan yang tiada taranya. Terlebih ketika kita jeli mengamatinya dengan menggunakan mata dan selera refressing kita.
Amboi…! Kita membayangkan para turis-turis itu akan girang dan mencoba mangabadikan dan berebut mengambil angel yang menarik untuk semua yang tampak unik, indah dan menarik melalui kamera yang mereka bawa.
Ya, tentang nyiur melambai yang membentang di sepanjang pesisiran terpadu dengan pasir putih, atau tentang suasana pedalaman yang menawarkan suasana perkampungan yang syarat dengan aroma rural agrarisnya.
Tetapi, setelah merenung dengan matang dan mengamati kembali objek-objek dan suasana kebudayaan yang ada di sekitar kita. Bayangan kita mungkin seketika dan sontak mengalami perubahan yang drastis. Dan membuat kita harus kembali menelan air liur kita. Betapa absurd kenyataan terkait dengan andalan kepariwisataan kita. Kalau tidak dengan kasar kita mengatakan jelek dan tidak layak untuk dikunjungi.
Lantas pertanyaan kita akan segera ngeluruk dan mengacung-acung ke hidung para petinggi dan penentu kebijakan di daerah ini. Adakah mereka betul telah memberikan stimulasi bagi tumbuh dan berkembangnya objek pariwisata yang ada di daerah ini.
Bukankah untuk membangun objek wisata harus di dukung oleh sarana dan parasarana yang memadai, mulai dari hotel berbintang, diskotik, atau restoran-restoran yang dapat memanjakan selera para petandang tadi, termasuk barangkali selera syahwat mereka.
Nah berkaca di kenyataan inilah, kita akan kembali menemukan diri kita terpuruk ke dalam suasana yang kian gamang. Apa betul untuk mendatangkan wisatawan kita harus mendorong pembangunan sarana dan prasarana yang serba luks dan mewah yang tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit dari kocek pembangunan itu.
Atau bisakah kita lebih arif pada kenyataan untuk lebih fokus memperhatikan objek kunjungan kebudayaan yang menawarkan suasana kebatinan warga yang berdiam di setiap petak tanah dan pulau di Sulawesi Barat ini. Sedang itu juga cukup menarik untuk ditawarkan sebagai salah ikon juga trade mark bagi kunjungan para turis di daerah ini. Selain pantai, atau objek kunjungan lainnya.
Saya menjadi sangsi, jangan-jangan provinsi ini sama sekali belum siap untuk menerima program yang lahir sebagai agenda nasional bagi kunjungan wisata di tahun 2008 itu. Sebab hingga hari ini, belum ada satupun kalender even yang bisa kita tawarkan kepada para wisatawan yang ada di luar daerah ini. Kecuali Polewali Mandar yang sepengahuan saya telah memiliki kalender even itu.
Padahal sebaiknya sejak dini, pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Barat telah melakukan pemetaan bagi kemungkinan melahirkan kelender even yang ada di lima kabupaten di provinsi ini. Sehingga saya membayangkan andai mungkin, sejak bulan Januari hingga Desember, ada interkoneksi kunjungan kepariwisataan yang ada di lima kabupaten di provinsi ini. Misalnya pada bulan Januari-April dipadati dengan gelar even seni budaya di Polewali Mandar. dan pada bulan April-Juni juga digelar juga even yang beda di Mamasa, Lalu pada bulan berikutnya Majene, Mamuju dan Mamuju Utara hingga bulan Desember dan begitu seterusnya.
Hal ini tentu akan lebih menarik mengingat hanya dengan cara serupa ini, para turis atau wisatawan dapat betah dan tidak sadar mengeluarkan uang dari saku mereka untuk betah tingal dan berdiam selama setahun full di provinsi ini, dengan cara mengikatnya melalui tawaran sejumlah even kepariwisataan yang berbeda selama setahun di lima kabupaten dan itu tertuang dalam kelender wisata di provinsi ini.
Artinya setiap kabupaten sedari awal telah bisa mempetakan model dan desain even dengan berdasar pada suasana kebudayaan dan kebatinan warga yang ada di kabupaten tersebut dan itu menjadi khas, unik dan sekaligus eksotik. Bukan malah berebut membuat even yang serupa dan atau mirip-mirip yang jika coba dikembangkan ke dalam kelender juga malah tumpang tindih. Bila perlu di dituangkan dalam bentuk Perda khusus untuk itu.
Atau bayangan tentang pembangunan pariwisata yang harus di dukung dengan beragam paket-paket gedung yang serba menteren serupa hotel, restoran dan gedung kesenian yang full ac dan meninggalkan corak dan keragaman daerah, adalah sebuah kekeliruan yang sangat besar.
Sebab kini telah terjadi perubahan yang sangat drastis terkait selera wisatawan, dimana mereka cenderung melihat kesahajaan, kemurnian yang terpelihara, bukan yang tempelan dan sesuatu yang mengada-ada. Bahwa hotel dibutuhkan kehadirannya, gedung kesenian diharapkan ada, restoran mewah diimpikan tersedia. Itu memang betul, tetapi bukan itu satu-satunya jawaban bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan. Tetapi bagaimana suasana kebatinan masyarakat dapat tertafsir maksimal dalam kehidupan keseharian masyarakat dan itu bernama laku budaya melalui ritual-ritual yang khusuk dan mistis tanpa rekayasa yang berlebihan dan mencabut ia dari akarnya.
Sedangkan gedung, tampaknya akan kian bijak jika di sanggah dengan kebijakan pembangunan hotel, restoran, gedung kesenian mengadopsi tuntas kekayaan dan potensi lokal yang ada dan berasal dari bahan lokal. Dimana pola desain interior dan eksteriornya tetap berpatok pada selera tradisi leluhur daerah ini. Dan juga bila perlu semua ini menjadi keharusan bagi setiap pembangunan di daerah ini.
Sehingga kelak siapapun yang masuk ke provinsi ini akan melekat sebuah pencitraan dalam benak mereka, tentang sebuah daerah yang memiliki keunikan dibandingkan dengan daerah lain. Tetapi hal ini juga sudah barangpasti mesti di dorong oleh kebijakan di tingkat penentu kebijakan untuk ikut memikirkannya.
Sehingga dengan demikian kita akan menjadi sebuah provinsi yang betul bisa memaknai kekayaan kita tanpa sekali lagi seperti negara, yang baru sadar dengan kekayaannya yang sesungguhnya setelah kekayaan itu di klaim milik orang luar.
Inilah menurut hemat penulis yang akan menjadi gawean besar bagi Dinas Pariwisata Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat dan semua stake holder yang terkait untuk urung berupaya menstimulusi kebijakan pengembangan dunia kepariwisataan di daerah ini. Sebelum kita semua menghayal tentang orang-orang dengan tampang dan pakaian aneh menenteng segala pernah pernik lalu lalang dan dengan bahasa yang tak bisa kita pahami melintas di depan rumah kita, menelisik masuk ke dalam kampung-kampung kita yang terdalam.
Atau sekali lagi kita akan menjadi makmun di tengah jamaah besar agenda nasional yang juga besar dan hanya siap mengamini. Ataukah kita masih akan berkutat pada pemikiran bahwa semua mesti terfokus di ibu kota provinsi tanpa bisa berpikir sedikit lebih maju ikut mengembangkan semua kabupaten berdasarkan skala kebutuhan dan potensi yang dimiliki.
Dan luput untuk ikut hanyut dalam genderang talu rebana pembangunan nasional dunia kepariwisataan yang bernama Visit Indonesia Year 2008. Ataukah kita sekali lagi harus mengatakan harap maklum, karena provinsi yang mala’bi ini masih balita dan belum memiliki kewajiban apa-apa. Seraya membiarkan kita hari ini dan kelak akan melulu bertanya dimanakah Sulbar dalam peta kebudayaan dan kepariwisataan di Indonesia itu ? (mst)
Catatan : tulisan ini sebelumnya dimuat di Radar Sulbar

Tinggalkan Balasan