Tinambung, Sulbar dan Sang Panglima Puisi Itu

“Dilangit malam : Bulan memancarkan cintanya kepada Khairan. Khairan tidak perduli. ” begitu lafal puisi yang tercipta dari guliran talenta seorang Husni Djamaluddin. Ketika itu tahun 1976. Dia yang sang panglima telah berpulang. Tetapi daya dan cita rasa syair dan lantunan puisi yang terlontar dari bibirnya tetap berkumandang. Setelah sebelumnya sempat beberapa hari tergolek lusuh di salah satu rumah sakit di Jakarta.
Saya yang tinggal dan berdiam ditempat kelahiran Sang Panglima di Tinambung Polmas  yang tersudut bahkan terpojok dari garis spasi Bangsa besar bernama Indonesia, merasakan khusuknya malam-malam ketika beliau masih disemayamkan di rumah duka Jln. Hj. Bau Makassar (24/10) sehari sebelum dia dikebumikan di Pemakaman PWI Sudiang Makassar. Mengingatkan saya kepada sebuh kota kecil yang khas dan amat klasik dan berlumut—setidaknya hemat saya. Yah di bulan puasa, bulan yang khusuk dan kering. Maklum, hujan tak pernah kunjung menderaskan tapak tumitnya ke bumi. Tetapi malam itu, seketika hujan tumpah, ditanah Tinambung. Seakan sesaat menggelitik bulu kudukku untuk merinding dan lalu bergetar mistis. Disana nun jauh sekitar 400 Km tergolek sajak dan puisi yang tinggal jasad dan kaku, tetapi toh tidak akan mati-mati. Yah mungkin sedang bercengkaram dengan tuhan-Nya. Atau mungkin sedang menimbang-nimbang atas penghayatan pada sebuah kematian yang lalu bisa dimaknai sebagai kelahiran dalam menyingkap hijab sebuah persuaan dengan Sang Ilahiyah. Tetapi satu yang pasti, alam seakan ikut mengisyaratkan sebuah tembang miris puisi kedukaan.
Dalam banyak catatan, Pak Husni—kerap beliau disapa—adalah seorang dari sedikit penyair dari tanah Sulawesi yang mampu berotasi ditengah jagat kepenyairan Nusantara, bahkan dunia malah.
*****
“ Bulan mengetuk jendela : Khairan tetap saja menulis puisi “ bagitu penggalan lafal berikutnya seakan mengisyaratkan betapa care nya Sang Panglima Puisi—julukan lain buat Husni atas  proses kreatif dan kepenyairannya. Mengingatkan saya ketika beberapa bulan yang lalu ia memanggil—seperti kebiasaannya ketika mudik yang kerapkali mencari kami (Anak-anak Teater Flamboyant Mandar Tinambung) yang kebetulan merasakan getar kegelisahan yang sama atas kesenian, jagat perteateran, bahkan ranah kebudayaan pada cakrawala yang lebih generalis.
Dalam kondisi kesehatan yang memang sudah kian menurun, kepada saya dan beberapa teman-teman yang memang tidak menyia-nyiakan kehadiran Sang Panglima di Tinambung kala itu di Guest House Al Jamal Kandeapi, kemudian berbincang hingga larut malam. Perbincangan dimulai dari buku kumpulan puisinya yang tengah digarap kawan-kawan penyairnya sebagai kado persembahan ulang tahunnya, hingga kepada gelitik yang rada membanyolnya akan realitas politik dan seputar nurani bangsa yang kian hari kian limbung, dalam kacamata kebudayaan beliau. Belum lagi seputar ajakan dan keinginannya untuk mengusung beberapa naskah pementasan Teater Flamboyant Mandar ke even tingkat regional dan bahkan nasional.
Ia yang malam itu sempat membacakan puisinya ditengah kerubutan kawan-kawan Teater Flamboyant seakan ingin menjelaskan kepada kita semua, kendati kondisi kesehatan tidak lagi memungkinkan tetapi daya hidup tidaklah boleh redup. Dan itu terbaca pasti dari sorot bening bola matanya dibalik kacamata minusnya. Hingga tengah malam kami lalu diajak ke Dapur sekedar menikmati beberapa makanan khas tradisional buras dan loka sattai (pisang rebus yang bersantan) disana lalu perbicangan banting setir ke persoalan Sepak Bola, sebagai salah satu cabang olah raga  yang cukup ia gandrungi.
Lalu yang menarik dari perbincangan malam itu, adalah pernyataan Sang Panglima atas kerelaannya untuk mati setelah Sulawesi Barat terbentuk. “Kalau toh pada akhirnya saya harus mati, saya akan mengatakan, sebaiknya setelah Sulbar sajalah. Karena saya sudah akan merasa tenang kembali ke sisi-Nya,” ujarnya lirih kala itu.
Tidak mengherankan memang, beliau adalah sosok tokoh yang tak dapat dipisahkan dari realitas perjuangan Sulbar. Hingga ingatan saya tertumbuk pada, perseteruan antar beberapa perjuang Sulbar yang terjadi tempo hari di Hotel Sahid Makassar. Sebagai Panglima Puisi, sebagai orang menghayati hidup, dan sebagai Bannang Pute-nya Mandar—Seperti Klaim Rahman Arge—beliau lalu tampil dengan gagah dan arif melerai dan meretas segenap persoalan dan kebekuan bahkan ketegangan para pejuang kala itu.
*****
“ Syahdan : Ketika bulan dan Khairan tuntas di puncak malam sebuah puisi tiba diujung baitnya “ lafal ini sekonyong ingin menegaskan akan kedalaman seorang Husni yang lahir dari sebuah ranah kultural yang menimang nilai-nilai. Yah di Tinambung sebuah tanah yang dingin nan lembab dikala malam. Dan garang liar dikala siang mencucup bumi. Yang di tengahnya dibelah deras air sungai Mandar. Sehingga melahirkan puisi bukanlah barang sulit bagi seorang penyair sebesar Husni Djamaluddin. Termasuk memperjuangkan dan merealisasikan Sulbar barangkali. Selama ia bertumupu pada sumbu dasar niat luhur dan ketulusan nurani.
*****
“ Bulanpun kembali ke langit malam memancarkan cintanya kemana-mana” adalah lafal terakhir dari Puisi Hikayat Bulan dan Khairan. Seperti Puisi Cak Nun penyair dan budayawan Nasional yang menyempatkan membaca puisinya di Pemakaman PWI Sudiang tempat ia dikebumikan. “Husni Mamasuki Alam Terang dan Menjadi Cahaya ,” bagitu lantun Puisi Cak Nun, yah mungkin seperti cahaya bulan yang menuju Sang Hyang Khalik. Terakhir selamat jalan penyair bangsaku, selamat jalan pejuang negeriku, selamat jalan Sang Panglimaku. Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun. Tertulis lewat SMS duka, kendati tanpa bunga. Kecuali tembang mengiris dicandai denting senar kecapi Mandar. Menjelaskan bahwa puisi itu belum mati. Dan tak akan mati-mati. Dan disana di Tinambung masih mengalir air sungai Mandar membelah kota kecil itu, seperti para Bannang Pute dan puisi akan tetap menderas dan mengalir lalu menguap dan tumpah dikedalaman nurani anak Mandar berikutnya. Semoga Kelak.(mst)

Catatan : sebelumnya tulisan ini pernah dimuat di Sulbar Bersinar dengan sub judul Catatan Akhir Dalam In Memorian Husni Djamaluddin

~ oleh Muhammad Syariat Tajuddin di/pada 3 Juli 2009.

Tinggalkan Balasan