Tentang Senandung Cinta Orang Laut

Tentang laut yang telah lama dinafikan. Atau tentang manusia yang alpa pada laut. Padahal negara ini di dominasi oleh wilayah lautan. Atau tentang kejayaan kebudayaan nusantara yang dulunya ditopang oleh kejayaan budaya maritim. Lantas yang disayangkan kemudian adalah, bahwa dari beberapa orde, nyaris tak ada satupun yang murni berkutat untuk memerdekakan laut dari penghambaan kapitalisme idustrialis di negeri ini. Atau tentang minimnya kebijakan atau regulasi di bidang maritime–dan kalaupun ada–kerapkali justru tidak berpihak pada laut itu sendiri.

Sehingga begitu banyak kasus yang mencuat dan teramat sangat menyedihkan bagi orang-orang laut.
Hulu persoalan dari semua itu salah satunya adalah, tidak adanya pertimbangan yang matang atas pengelolaan hingga pada pengalokasian dana dan fokus pemikiran pada laut. Seperti itulah barangkali kesan yang dapat kita petik setelah membaca buku karangan Muh Ridwan Alimuddin.
Tidaklah begitu mengherankan memang, ketika ia sangup menjelaskan begitu detail tentang laut dan budaya bahari Indonesia, mengingat–Iwan sapaan karibnya—di keseparuhan waktu dan pemikirannya telah dihibahkan untuk menulis dan hidup total dilautan. Sehingga dalam buku yang berjudul, “Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut” hasil garapannya, adalah setara dengan menyimak suara lirih dan senandung cinta yang terkoyak dari seorang pecinta laut.
Dalam salah satu esainya yang berjudul kejahatan-kejahatan nelayan misalnya, Iwan dengan sangat pasih melukiskan, bagaimana teledornya kita dalam menelorkan kebijakan di wilayah perairan. Sehingga dengan gampang kita mengumpat, mencaci dan menistakan para pelaku pengeboman ikan. Padahal, kita tidak pernah lebih jauh, meng-indeft, bagaimana mereka bekerja, bagaimana dengan tekhnologi yang mereka gunakan, bagaimana pengetahuannya, dan bagaimana dengan sikap orang dari komunitas luar terhadap mereka. Dititik ini, seakan ia ingin menjelaskan bahwa sungguh pelaku pengeboman ikan itu adalah juga korban dari sebuah konsfirasi.
Yah sebuah konsfirasi yang bahkan jauh lebih besar dan lebih dahsyat. Ketimbang ledakan bom yang ditimbulkan oleh mereka yang disebut sebagai pelaku pengeboman ikan. Sebab tulis Iwan, jika ada penggalian yang intens untuk memahami laut dan beragam persoalan yang mengitarinya, niscaya kita akan berbalik kasihan dan iba melihat realitas miris orang-orang laut tersebut.
Hal yang tak kalah menariknya dari buku ini adalah, cerita perjalanan Iwan ke komunitas nelayan korban penggusuran di Muara Angke Jakarta. Dengan ‘cantik’ dan dengan menggunakan bahasa bertutur yang lentur, ia melukiskannya, laiknya sebuah pragmen kehidupan tentang orang-orang yang tergusur korban dari kepongahan penguasa.
Dengan tulisannya, Iwan telah mentahbiskan dirinya menjadi penyaksi sebuah kebijakan yang abai pada nurani kemanusiaan. Betapa tidak, tulis Iwan, Muara Angke yang berada di Ibu Kota negeri ini seakan memaparkan sebuah gambar buram yang complang antara kemewahan yang serba moderen, ditimpali dengan kanal butek, tikus riol, kucing koreng dan anjing kurap yang mengais-ngais sampah yang berserak adalah profertinya. Dan itu telah menjadi pemandangan jamak dan amat karib bagi sebuah komunitas nelayan. Termasuk di Muara Angke itu.
Sehingga tak salah jika Rokhmin Dahuri yang ketika masih menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan RI dalam prolognya seakan mengacungkan jempolnya pertanda kagum kepada Iwan. Dan menyambut baik kumpulan esai itu sebagai sumbangan yang cukup berharga untuk memahami laut, nelayan dan kebudayaan bahari. Atau seperti timbang buku yang ditulis Nirwan A. Arsuka penulis Budaya di Media Kompas itu, yang menyebutkan, “buku ini adalah sebingkai jendela kecil buat menatap sisi lain Indonesia yang begitu penting, begitu dekat, namun sekaligus sering ditelantarkan bahkan ditindas”.
Pendeknya, buku yang berisi 56 esei lepas ini, betul adalah sebuah jendela bening, yang mencoba memotret Indonesia pada angle yang lain, dan ternyata unik. Dan menyadarkan kita bahwa di lautlah keluhuran dan keagungan bangsa ini dimulai. Maka setelah tamat membaca buku bersampul fhoto anak laut Pambusuang yang menggendong ikan ini, saya menoleh ke teve dan menemukan berita dahsyat kecelakaan pesawat yang menelan begitu banyak korban. Dan konon kecelakaan serupa telah kerap kali terjadi di negeri seribu pulau ini. Dalam benak spontan aku membatin, “mungkin sebagai isyarat kemurkaan dari tetuah leluhur atau para dewa laut kita, dan mengajak kita untuk kembali mencintai laut berikut budayanya”.
Hanya saja, saya tidak sedang mengiklankan kendaraan laut, seperti PELNI misalnya,. Dan melarang orang untuk menumpangi pesawat yang walau murah, namun mempertaruhkan nyawa. Tetapi saya sedang menulis sebuah resensi buku yang diluncurkan di Aula Diknascam Tinambung Polewali Mandar (2/12) lalu. Yah sebuah buku, tentang senandung cinta orang laut yang juga anak Mandar. Yang untuk memilikinya, dapat kita peroleh di beberapa gerai buku jaringan penerbit Ombak Yogyakarta. Selebihnya, Wallahu Alam Bissawab.(mst)

Catatan : tulisan ini sebelumnya dimuat di Sulbar Bersinar pada kolom resensi buku

~ oleh Muhammad Syariat Tajuddin di/pada 3 Juli 2009.

Tinggalkan Balasan