Seteru Hasil Pemilu, Atau Gengsi Lembaga
Pemilu presiden langsung baru saja berderak melangkah dan berlalu. Namun berjubel persoalan, seperti yang telah banyak diprediksi sebelumnya oleh para pakar akan menimbulkan banyak persoalan ternyata hampir pasti kini telah terjadi.
Sekedar gambaran, kekisruhan yang hampir bernada menggugat realitas pemilihan langsung ini dapat kita lihat pada banyaknya laporan media yang ikut menyoal dan mempertanyakannya. Mulai dari kasus pencoblosan di Al Zaitun Indramayu, sinyalemen telah terjadinya politik uang (money politik) yang dilontarkan oleh salah seorang Capres yang dengan gamblang dan blak-blakan dimedia massa. Hingga pada pertanyaan dan gugatan akan temuan yang hasil pemantauan dan penelitian quick count (penghitungan cepat) yang dilakukan oleh LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) yang bergandengan dengan NDI (National Democratic Intitute).
Belum lagi hasil investigasi yang dilakukan oleh instrumen bentukan Capres dan Cawapres yang sampling TPS-nya tersebar acak di beberapa daerah pemihan. Hingga pada laporan media massa lokal yang juga hampir semuanya bernada menggugat. Dan itu ada disetiap daerah. Pertanyaannya kemudian adalah, sampai sejauh mana kerja-kerja KPU dapat dicermati dalam matra bergeraknya diskursus demokrasi yang salah satu parameter mandasarnya adalah sakses tidaknya Pemilu dilaksanakan ?
Ada berjubel catatan buram hasil pemilu legisalatif yang lalu, yang seyogyanya menjadi catatan yang perlu distressing. Betapa tidak persoalan yang mengapung pada saat pemilu legislative lalu itu menjadi pelajaran yang amat berharga. Sehingga dengan demikian, catatan pemilu presiden yang ada sekarang tidak mesti mencetak catatan buram yang bernada miris seperti yang terjadi saat ini.
Dan KPU seperti kita lihat pada proses rekruitmennya tempo hari telah melewati sebuah proses yang amat njelimet dan berlapis-lapis. Sehingga harapan yang ada saat itu adalah, bahwa pelaksanaan pemilu yang dimotori KPU itu akan melahirkan secercah harapan akan hasil yang menggembirakan. Sebab, hampir pasti setiap yang duduk dan terseleksi menjadi anggota KPU itu adalah manusia pilihan bangsa ini. Tetapi harapan itu ternyata kini berbuah gugatan dan pertanyaan-pertanyaan. Akan output yang dihasilkan dari pemilu terakhir ini.
Tetapi tentu persoalan yang ada disekitar pemilu kali ini tidak lantas akan di limpahkan kepundak KPU saja, sebab proses pemilu telah sama kita pahami juga ikut melibatkan banyak elemen, termasuk rakyat wong cilik. Dan mesti menjadi tanggung jawab kita bersama. Sehingga kesimpulan awal yang dapat ditarik dari pemilu kali ini bahwa ternyata kita belumlah begitu melek memaknai demokrasi. Ataukah memang seperti inilah frame politik di negeri ini. Yang melulu mentok pada sebuah kenyataan tuding menuding dan melemparkan kesalahan. Tanpa pernah merasa bahwa diri kita pun telah ikut menciptakan dan bahkan melanggengkan ruang kesalahan dalam proses pemilu kali ini.
Tetapi, sungguh yang paling perlu ditakutkan adalah, jika sinyalemen adanya tudingan dan gugatan akan keabsahan atau adanya aktor intelektual (intelectual dader) di balik kajian dan hasil penghitungan suara LP3ES itu juga syarat pretensi dan tendensi atas pemenangan salah satu Capres dan Cawapres. Ataukah tudingan akan adanya perang gengsi lembaga antara KPU dan LP3ES, dimana LP3ES sebagai lembaga kajian yang mempertaruhkan kajiannya disatu sisi dan KPU disisi lainnya yang berisi para manusia terbaik bangsa ini juga mempertaruhkan profesionalismenya. Yang tentu sama-sama ingin tampil survive di mata masyarakat Indonesia bahkan dunia malah.
Sebab apapun alasannya, kaitannya dengan semua ini cepat atau lamban akan menjadi ukuran standar sejauh mana diskursus demokrasi terejawantahkan dalam tataran praktisnya di negara ini. Saya pikir kedua lembaga yang ada diatas, tengah sama-sama berjuang dalam proses menuju demokratisasi. Sisa model dan patron serta wilayah penggarapannya saja yang membedakan. Dimana KPU sebagai lembaga pelaksana Pemilu dan LP3ES kini tampil sebagai lembaga pemantau Pemilu.
Pendek kata, Dr Zainuddin Maliki tidak mesti menulis, bahwa kini di era reformasi, perkembangan politik yang tengah bergerak dan berubah tidak hanya melibatkan para politisi busuk, tetapi juga sistem politik pun kemudian mengalami proses pembusukan. Hasilnya, kepercayaan publik terhadap politikuspun terus menurun drastis. Sementara itu, rakyat yang miskin dan kelaparan digusur-gusur, di usir dan bukan dibebaskan dari kemiskinan dan kelaparan. Dan ditengah situasi rakyat tertekan subtsistensi ekonominya, elit politik sibuk memperkaya diri dengan membebankan ongkosnya dari uang rakyat. (Politikus Busuk : hal 247)
Alhasil apapun yang dihasilkan dari pemilu kali ini adalah gambaran wajah kita. Yah, wajah bangsa ini dalam menterjemahkan politik dan demokrasi yang tengah kita bangun di negeri ini. Hanya saja, tidak lantas buruk rupa cermin dibelah. Dan pada spasi terakhir tulisan ini mesti menyatakan bahwa tudingan dan cercaan akan patron pemilu kali ini tidak lagi harus kian menderas dan lalu tumpah memenuhi atmosfere perpolitikan bangsa ini. Karena tokh, inilah wajah kita semua.(mst)

Tinggalkan Balasan