Di Titik Dingin yang Menusuk

Berjalan ditengah malam yang gelap nan bebal. Gemerincing suara gendang seketika tertangkap telinga Ajo Herman kala itu. Malam ditemani bulan yang sepenggal dan mengintip, seakan mengawasinya yang tersaruk-saruk berjalan meniti jalanan yang diatasnya tampak kilatan bulan. Memantul dari air bekas hujan deras tadi sore. Dengan langkah oyong tak bersemangat dikayuhnya melewati sebuah riol kecil. Suara gendang itu kian terasa menggedor-gedor memaksa masuk ke dalam otak, syaraf hingga dadanya.

Langkahnya seakan ada yang menghela dari depan atau mungkin serasa ada yang mencambuki dan melecutnya dari belakang. Kian kencang langkah itu berjalan, seakan berlari kecil mengejar segenap yang tak pasti. Dan ia sendiri tak memahaminya. Mengapa malam yang dingin ditemani bulan yang sepenggal, matanya tak jua mengantuk seperti malam-malam sebelumnya. Yang terkadang mengantarnya tertidur dan tak sadarkan diri, di emperan, di selokan, yang mengering atau di trotoar yang seakan tak bertuan. Bahkan tak jarang di taman kota yang ditinggal pergi para penjaja cinta kelas kecoa. Atau di kolom jembatan dan rel kereta yang ketika pagi memaksanya membuka mata oleh deru kendaraan yang berjejal di atasnya, atau ketika kereta api mengayak-ayak rasa kantuknya yang sulit terenyahkan. Dan membuyarkan mimpi-mimpi malamnya
Semakin dipercepat langkahnya menyalip kilatan cahaya bulan yang terpantul. Semakin menyayat-nyayat suara gendang itu, bak suara serunai batang padi yang melengking dan memekakkan gendang-gendang telinganya. Dengan langkah yang dipaksa untuk dipacu ditingkahi suara gendang yang kian bergumul di dalam dadanya. Kini tenaganya ambruk tak lagi kuat menyalip cahaya bulan diatas aspal hot miks itu. Di sisi gerobak bakso dan penjual kacang dirinya oyong dan ambruk. Malam itu ditemani dingin yang menggigil. Ajo herman mengantuk, tertidur pulas, baju kumal mulai basah, sepatu bott jenggel tak terurus. Atau rambut acak tak disentuh sisir. Ia terbaring matanya masih juga melek menatap hampa bulan yang separuhnya terlindungi pepohonan di sisi gerobak. Disisi penjual kacang. Suara gendang tidak juga beranjak dari dalam dadanya. Ajo Herman kemenakan Datuk Rangkayo itu kini terbaring lusuh. Diatas aspal hotmiks yang licin. Sesekali mobil dengan kaca yang tertutup rapat lewat disampingnya. Tanpa menggubris dan memperhatikan dirinya yang kini tengah teronggok bak sekawanan kepinding yang terpisah dan baru saja dilindas jempol kekar.
Beberapa kali ia mencoba menghela napasnya yang kecapaian sehabis berlari dari ketakutannya. Namun gagal karena usahanya untuk bangkit dan berlari, lagi-lagi gagal. Ambruk. Matanya berkunang-kunang, tak ada yang dapat ditangkap oleh penglihatannya.
# # #
Yang tersisa dalam ingatannya tinggal bunyi serunai kala dirinya masih di berada di kaki Gunung Bungsu menatap ladang milik pamannya di Saruaso Timur itu. Kala itu, ambisinya belum sedahsyat dua tahun terakhir. Ketika ia harus memilih untuk meninggalkan lengkingan serunai batang padi di desanya mengejar ilmu dan cita-cita, seperti kebanyakan keponakan para datuk yang kaya-kaya di desanya. Atau saat pepatah alam takambang jadi guru ia pahami dari Uda Syafril aktivis karang taruna suatu kali di surau milik keluarga Haji Sikumbang yang dihibahkan kepada masyarakat di kaki Gunung Bungsu itu.
Karena pepatah dan tradisi kebanyakan orang kaya dan para Datuk di desanya itulah, memaksanya untuk pergi dan merantau hingga terdampar di atas aspal hotmiks yang ditaburi pantulan cahaya bulan, atau kilatan cahaya lampu mobil yang berseliweran. Hingga dua tahun terakhir ini. Keinginan untuk pulang basamo ke kampung seperti kebanyakan urang awak perantauan tidak juga bisa ia lakoni. Pupus dan tak berbekas. Kecuali baju kumal, sepatu bot jenggel yang tak terurus, rambut acak tak pernah disentuh sisir.
Walau dua tahun sebelum ia menemukan dirinya kini tergolek lemas, masih terdaftar di sebuah perguruan tinggi mengambil jurusan ekonomi akuntansi. Yah sekedar mempersiapkan perangkat kemampuannya untuk akhirnya pulang kampung, membenahi dan mengurusi usaha milik Datuk Rangkayo pamannya yang sudah tua dan mulai menampakkan keriput-keriput di wajahnya. Sampai ketika ia harus berhadap-hadapan dengan petugas. Ketika demonstrasi memaksakan dirinya untuk turun ke jalan meneriakkan kebenaran hati nuraninya. Ditengah sekawanan mahasiswa yang berhadapan-hadapan itulah dirinya terkulai lemas sesaat sebelum ia tersuruk ke dalam barisan aparat. Sampai akhirnya ingatannya tidak lagi pernah pulih benar, saat ia usai diinterogasi di sebuah ruangan yang pengap dan hanya ditemani bola lampu lima watt dan lima orang aparat yang berseragam lengkap menudingkan beceng. Bahkan sesekali menyulutkan ujung batang rokok yang memerah ke bagian tubuhnya. Keringat dingin, jantung yang berdegup kencang, lutut merinding tak keruang. Lengkap sudah melingkupi ketakutan dan kengeriannya kala itu. Dibeberapa bagian tubuhnya penuh luka yang membiru dan seakan tidak lagi sanggup mewakili wajahnya. Matanya tampak cekung ke dalam. Tulang hidungnya remuk. Punggungnya melepuh, seperti baru saja dijilati api. Dikepalanya berpusing-pusing pusaran warna yang tak juga keruang. Ingatannya melayang-layang. Zigzag, sesekali meloncat wajah pamannya, wajah Uda Syafril menceramahinya di lapau kopi Mak Keling. Atau lengkingan serunai batang padi di kaki Gunung Bungsu.
Sesekali juga terbayang beberapa wajah kekasihnya yang sempat singgah dalam kehidupannya. Roman muka Si Ijah yang centil dan pandai menari piring diringi talempong dan saluang, atau Si Desi dari Suku Koto yang pandai memasak rendang balado kesukaannya. Bahkan Si Upik Limau dari pandai Sikek yang hebat menjahit kain bordiran. Atau si seksi Jelita Pondaag yang memperkenalkannya pada hingar bingar diskotik dan keremangan malam di tanah perantuannya kini.
Semuanya meloncat dan bergantian seperti filem-filem yang berputar tak jelas dan tak keruang. Di jidatnya meleleh keringat dingin diatas kursi reyot yang kakinya menginjak jari jempol kanannya. Bola lampu di ruangan pengap itu byar pet sesekali bergoyang kesana kemari seakan meningkahi bentakan garang dari wajah salah seorang aparat yang brewokan dan yang dipipinya tampak garisan codet bekas luka.
Tatapan mata Ajo Herman mulai meletih namun tetap awas atas segala yang terjadi kala itu seketika meredup dan tampak hampa. Kosong dan melompong. Suhu badannya tidak lagi dingin dan menggigil. Tetapi ingatannya tidak pernah berhenti berputar-putar tak keruang. Beberapa wajah berseliweran muncul dan hilang, muncul lagi dan hilang lagi. Sampai akhirnya ia ambruk dan tak lagi pernah bisa mengawasi dirinya. Ia ambruk dan tak ingat apa-apa lagi.
# # #
Disisinya masih juga mematung gerobak bakso, diatas aspal tidak jauh dari penjual kacang. Lalu lalang mobil tak pernah berhenti. Hujan kembali turun pelan. Sayup-sayup cahaya bulan yang sepenggal menghilang seakan ditelan pepohonan. Aspal hot miks itu mulai basah lagi. Ajo herman mengantuk, tertidur pulas, baju kumal mulai basah, sepatu bott jenggel tak terurus. Atau rambut acak tak disentuh sisir juga ikut basah oleh cipratan air hujan yang turun kian kencang dan deras. Sayup-sayup suara gendang melemah. Hingga akhirnya hilang. Pagi sekali, hujan belum juga reda malah bertambah garang dan deras. Ajo Herman masih terkulai kuyu  dan lemas. Teronggok dan terbuang layaknya lepas dari sekawanan kepinding yang baru saja dilindas jempol kekar. Dilindas nasib. Yah dilindas kepongahan kota, juga ambisi yang tak juga tergapai. Pupus dan tanpa rasa. Tidak dingin. Tidak juga panas. Terbujur di atas aspal hot miks. Tanpa rintihan dan tembang serunai duka. Sudah itu kaku. Matanya masih melek menatap kosong, hampa dan dingin tinggal serunai duka yang melengking dan kian meninggi.

Lembang, 2003

Catatan : Sebelumnya pernah dimuat di Harian Pagi Fajar Makassar

~ oleh Muhammad Syariat Tajuddin di/pada 3 Juli 2009.

2 Tanggapan to “Di Titik Dingin yang Menusuk”

  1. nice :)

Tinggalkan Balasan