Adakah Sulbar Dalam Lukisan Itu ?
Beberapa orang yang mengenakan kopiah penyot yang telah usang, dengan telanjang, dengan perut buncit, dengan mulut lebar, dengan wajah sangar, dengan aura dan roman kepekatan. Yang satu memangsa yang ada di depannya, sedang ia juga dimangsa oleh manusia lain dari belakang. Begitu seterusnya dan membentuk lingkaran manusia perkopiah penyot usang saling memangsa. Masokis.
Adalah salah satu karya lukisan yang berlabel ‘Kanibalisme Nusantara’ yang diusung Rahmat Mukhtar pada gelar FOLANGGA atau Forum Vula Dongga I di Palu 25-27 Nopember 2004 lalu. Seakan mencoba mengutarakan realitas pahit yang pilu, mengiris, menjerit dan menyayat-nyayat hingga mengorek-ngorek sekat kemanusiaan. Penggambaran yang dengan pasih tertoreh itu, tak pelak ikut menyulut kesadaran akan realitas bisu yang berteriak lantang lewat lukisan seorang Mat Panggung—sapaan karib Rahmat Mukhtar.
Belum lagi karya lainnya yang juga seakan mentahbiskan kepelukisan kontemporer-nya yang juga terpajang di Galeri Seni Lukis Taman Budaya Palu. Dan sanggup menyulut ketakziman 300-an pasang mata mencermatinya. Yakni sebuah makna kebingungan dalam rotasi dan perputaran labirin kemanusiaan. Oleh Mat Panggung kemudian dilabeli dengan ‘Perjalanan’. Hanya torehan garis-garis, kadang putus dan lalu sambung menyambung berputar layaknya lingkar liuk obat anti nyamuk. Yang menurutnya adalah proses pencarian jalan kemanusiaan yang juga adalah sebuah siklus yang melulu mentok dan berputar disitu-situ.
Karya cat minyak diatas kanvas dengan ukuran standar lainnya juga dapat dilahap pada lukisan yang mencoba merespon alam ‘Hutanku’ atau pada ‘Ibu’ dan ‘Berkode’. Tetapi yang lalu banyak menuai pertanyaan dan seakan membentur-bentur ruang bawah sadar pengunjung pameran yang kalau di Indonesia-kan berarti bulan purnama itu, adalah sebuah karya berjudul ‘Mainanku’. Disitu rahmat mencoba memapah warna-warnanya melalui sapuan kuasnya dan mencapai ektasy-nya lewat penampakan seorang anak lugu bahkan terkesan pilon yang bertelanjang dada, sedang asyik masyuk dengan (maaf : kelaminnya), dengan celana putih yang separuh terbuka juga kedodoran.
Akhirnya membaca lukisan Mat Panggung pada event nasional dan menghadirkan pelukis tiga kota yakni, Palu, Mandar, Yogyakarta ini seakan mengamati Indonesia dan kekiniannya yang serba tak bermoral. Yah sebuah etalase, sebuah aquarium, sebuah almari, sebuah ruang yang menampakkan kedalaman-kedalaman dalam memaknai perjumudan pemikiran atas asosiasi-asosiasinya di rimba kehidupan.
Menurut Mat Panggung, enam karya yang diusung itu adalah buah pengembaraannya di didua lokal komuni budaya, Tinambung dan Salarri. ”Yah ini saya peroleh dalam pengembaraan saya. Yang intinya memotret realitas-realitas kemanusiaan yang kerap luput oleh kita disini (Mandar—pen),” urainya.
Sedang khusus, untuk gelar eventnya sendiri ungkap Mat Panggung, dianologikan sebagai rehab budaya hingga gerhana kesenian. Yang menurutnya juga adalah proses perubahan, dan proses saling memakan antara bulan dan matahari dalam konteks kesenian dan kebudayaan.
Hanya saja yang patut disayangkan tiadanya ruang apresiasi yang memadai untuk karya yang semacam ini. Salah satu penyebabnya adalah minimnya—kalau kasar, disebut tidak ada—kurator yang bisa dengan detail menjadi pengamat atas karya-karya seni lukis macam ini. Sehingga, permainan warna yang seakan tidak seirama dengan gerak gambar yang tergores. Atau minimnya penggunaan warna keras yang tegas. Padahal yang ingin dibahasakan Mat Panggung adalah, realitas binal yang bernas. Belum lagi kekurangsiapan Pemerintah dalam merespon agenda-agenda budaya dari orang yang gelisah. Sehingga Mat Panggung tidak lagi harus mencabik warna, seperti kegeramannya atas fakta-fakta yang disuguhkan oleh bangsanya. Yang untuk itu hampir-hampir tak terwakili pada ide dan gagasan warna yang ia digunakan. Selain bilur-bilur pekat yang juga terkesan soft dan cool yang selalu tumpah diatas kanvas.
Khusus menyangkut apresiasi karya, menurut Mat Panggung, dengan banyaknya gedung dan ruang kesenian ternyata tidak sanggup memicu apresiator budaya dan seni di Palu. Sedang Mandar apresiasi bagus dan penggiat seni budaya cukup banyak, malah tidak didukung gedung kesenian dan kebudayaan yang representatif. Sehingga para penggiat budaya dan seni harus memanfaatkan jagat alam raya sebagai panggung ekpresinya. “Lalu sampai kapan akan seperti ini. Ataukah akan melulu seperti ini selamanya,“ ungkapnya penuh tanya.
Sehingga mungkin bacaan orang adalah ia kritis, mungkin bacaan orang adalah cemoohan, mungkin bacaan orang vulgar dan mengumbar-umbar, tetapi satu yang pasti bahwa Mat Panggung telah ikut melengkapi Mandar, bahkan mungkin juga Sulbar. Sekaligus menyiapkan dirinya menjadi jendela pengamatan Mandar dalam kebudayaan. Atau menjadi as, baut dan sekrup, serta gotri dari bangunan mesin yang bernama lokal genius yang berpijak di Tanah Mandar. Paling tidak itu terbaca dari alur berpikirnya yang terlontar melalui karya-karyanya.
Hatta, menjadi tidak santun barangkali, jika membincang tentang seni lukis di Mandar. Utamanya yang beraliran surrealis kontemporer, abai atas eksistensi karya-karya Mat Panggung kali ini. Sebab yang pasti menurut Mat Panggung yang telah puluhan kali memamerkan lukisannya di Yogyakarta ini, kesenian dan kebudayaan juga punya ruang dalam atmosfere nilai-nilai, termasuk menjadi pengamat atas gejala. Dan semoga Sulbar tidaklah pernah dilukis dalam coret ‘Kanibalisme Nusantara’ seperti goresan Mat Panggung itu, yang Homo Homini Lupus. Selamat menjadi gotri kebudayaan itu baik di Kaili (Palu), di Mandar atau Sulbar sama saja. Sebab toh semua itu masih di Indonesia juga koq. (mst)
Catatan : Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Radar Sulbar

Tinggalkan Balasan