Selamat datang disini, semoga tak tepis-tepis tangan berjabat erat denganku. Hendaknya hal ini dibaca sebagai sebuah gejala yang coba merangkum kelindang pikiran, perasaan dan boleh juga sikap hidup. Siapapun anda, dari manapun anda. Maka anda adalah saudaraku yang rasanya akan amat bijak jika anda rela untuk meninggalkan jejak di blog ini, kritikan saran bahkan umpatan sekalipun akan amat kami hargai sebagai kemerdekaan anda untuk melihat ini sebagai sebuah gejala. Salam kreatif…
Sekarat
•8 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentarteringat belatimu menghunjam lambungku
teringat nyawaku meregang
ketika darah mengucur dari ususku yang terburai
saat itu hidup tak lagi diharapkan
sebab hidup memang tak lagi berpengharapan
belum tuntas ucapku
seketika parang panjang kau cucupkan ke punggungku
mati aku
sebuah sajak belum tuntas
keburu hitam pekat yang kelam menguasaiku setelah itu
kaku berjelaga
Kandeapi, 14 September 2000
Di Titik Dingin yang Menusuk
•3 Juli 2009 • 2 KomentarBerjalan ditengah malam yang gelap nan bebal. Gemerincing suara gendang seketika tertangkap telinga Ajo Herman kala itu. Malam ditemani bulan yang sepenggal dan mengintip, seakan mengawasinya yang tersaruk-saruk berjalan meniti jalanan yang diatasnya tampak kilatan bulan. Memantul dari air bekas hujan deras tadi sore. Dengan langkah oyong tak bersemangat dikayuhnya melewati sebuah riol kecil. Suara gendang itu kian terasa menggedor-gedor memaksa masuk ke dalam otak, syaraf hingga dadanya.
Opini Perjalanan
•3 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentarseorang lelaki tertubruk motor di perempatan sinapelan plaza
seorang lelaki di terminal aur kuning digertak tukang asongan
seorang lelaki main gaple di emperan angsa dua
membaca mandar dari atas bus palapa
melintas dibahu jalan lintas sumatera
mengarak-arak bangkai mengarak kebisuan
melongok di jendela pagaruyung mendendangkan kecapi mandar
disana menunggui letih dibalut koran dagangan
menunggui beduk buka di perempatan permindo
mata nanar menatap lembah anai membayangkan baliem
sebab sungai mandar juga mengalir dihati orang sipirok
memainkan saluang, menganyam sarung sutra
manortor irama sahwat kabarkan mistik
dalam tubuh mengalir deras air mandar air kebenaran
walau luka memar mencabik-cabik sumsum otak
dialektika sejarahkah ini ?
entah, sebab hari ini aku ingin tertidur pulas
dipangkuan belati senggamai kekudusan
seperti semerbak kuntum magis perantauan
sebab duka juga mesti ikut memahami
dalam separuh perjalanan waktu
dan di ruang-ruang etalase tak kutemu disana perempuan menyulam resah
di kaki gunung singgalang
meniti ceruk dalam tangkup lirih yang semerbak
sembilui paraunya asam lambung merapi
Pekanbaru, 9-13 Juni 1997
Yang Tersisa Dari Pemilu Legislatif
•3 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar“Tuttssss,tutssss, tutssss, halo siapa ini. Waduh susah, aku lagi di Makassar ini ……Loh, tadi barusan saya liat anda keluar dari gedung……..di sini (Polmas—pen) itu. Loh kok tiba-tiba anda di Makassar”. Begitu dialog saya melalui ponsel dengan salah seorang anggota dewan yang juga didapuk jadi ketua umum salah satu badan yang ‘mengomando’ lembaga kesenian di daerah ini, ketika itu.
Adakah Sulbar Dalam Lukisan Itu ?
•3 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah KomentarBeberapa orang yang mengenakan kopiah penyot yang telah usang, dengan telanjang, dengan perut buncit, dengan mulut lebar, dengan wajah sangar, dengan aura dan roman kepekatan. Yang satu memangsa yang ada di depannya, sedang ia juga dimangsa oleh manusia lain dari belakang. Begitu seterusnya dan membentuk lingkaran manusia perkopiah penyot usang saling memangsa. Masokis.
Lanjutkan membaca ‘Adakah Sulbar Dalam Lukisan Itu ?’
Visit Indonesia Year 2008, Sulbar Apa Kabarmu ?
•3 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah KomentarMenonton Grand Lounching Visit Indonesia Year 2008 Program Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI di Metro TV yang ditayangkan belum lama ini, membuat pikiran saya sontak melayang pada suasana hiruk pikuk keramaian yang kelak akan membuat tak sepetakpun tanah dari wilayah Indonesia yang tidak akan ditandangi oleh para turis manca negara maupun turis asing.
Mulai dari bandara, pelabuhan dan terminal akan diramaikan oleh orang-orang asing, lengkap dengan kamera tas jinjing atau ransel hingga ke pedalaman-pedalaman yang tersuruk dari hiruk pikuk, klakson, dan desingan pesawat yang take up.
Lanjutkan membaca ‘Visit Indonesia Year 2008, Sulbar Apa Kabarmu ?’
Anjungan TMII dan Pikiran Mini tentang Kebudayaan
•3 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah KomentarPembangunan kebudayaan tidak serta merta harus dipahami sebagai sesuatu dalam bentuk yang fisikal, mewah, indah, mentereng dan hebat. Kenapa kita harus mengambil tesa serupa diatas tentang kebudayaan ? Jawabannya adalah, bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang hampir mustahil berhenti disejajarkan dengan segala yang berbentuk realis dan faktawi saja. Sebab sejatinya kebudayaan selain dalam bentuk fisik, bagian lain dari kebudayaan juga tidak jarang hanya bisa diraba, karena ia terkait dengan fikiran dan nurani manusia yang mendukung kebudayaannya.
Lanjutkan membaca ‘Anjungan TMII dan Pikiran Mini tentang Kebudayaan’
Tinambung, Sulbar dan Sang Panglima Puisi Itu
•3 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar“Dilangit malam : Bulan memancarkan cintanya kepada Khairan. Khairan tidak perduli. ” begitu lafal puisi yang tercipta dari guliran talenta seorang Husni Djamaluddin. Ketika itu tahun 1976. Dia yang sang panglima telah berpulang. Tetapi daya dan cita rasa syair dan lantunan puisi yang terlontar dari bibirnya tetap berkumandang. Setelah sebelumnya sempat beberapa hari tergolek lusuh di salah satu rumah sakit di Jakarta.
Lanjutkan membaca ‘Tinambung, Sulbar dan Sang Panglima Puisi Itu’
Tentang Senandung Cinta Orang Laut
•3 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah KomentarTentang laut yang telah lama dinafikan. Atau tentang manusia yang alpa pada laut. Padahal negara ini di dominasi oleh wilayah lautan. Atau tentang kejayaan kebudayaan nusantara yang dulunya ditopang oleh kejayaan budaya maritim. Lantas yang disayangkan kemudian adalah, bahwa dari beberapa orde, nyaris tak ada satupun yang murni berkutat untuk memerdekakan laut dari penghambaan kapitalisme idustrialis di negeri ini. Atau tentang minimnya kebijakan atau regulasi di bidang maritime–dan kalaupun ada–kerapkali justru tidak berpihak pada laut itu sendiri.
Sulbar, Masihkah Engkau Lita’ Pembolongan ?
•3 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah KomentarSulbar bergerak, Sulbar berderak, Sulbar bergeser, Sulbar berjalan, Sulbar membangun, Sulbar terjebak, Sulbar tergelicir, Sulbar terjerembab, Sulbar tergerus. Dan entah begitu banyak kata kerja yang bisa disampirkan pada Sulbar yang berubah.
Lanjutkan membaca ‘Sulbar, Masihkah Engkau Lita’ Pembolongan ?’
