Aroma kota-kota dan bising terminal yang ditinggal datang dan pergi juga kertas-kertas tissue kusut masai oleh hujan yang menabrak musim
Atau kaleng minuman penyok yang dibuang oleh perempuan yang memburu kekasihnya dari atas jendela sebuah bus yang kekar
Lajulah waktu-waktu menuju persinggahan yang tak pernah ketemu ruang istirah dan tissue itu menjadi serupa bangku-bangku terminal menua dalam penungguan dan setia menampung cerita tentang kepergian, kepulangan dan penat
Demikianlah, kali ini juga adalah perjalanan yang tak pernah dimulai juga tak pernah berhenti hingga ingatan kembali mekar sebelum ia sempat rontok
Tidak sesetia pembatas lajur kanan kiri jalan pada malam-malam yang bisu seperti pisau yang teronggok di dapur dan bengkok
Kukabari kau tentang dentum lagu dangdut tatkala jalan ini kian bergerak lincah serupa burung mandar menerbangi zaman, pulau dan musim
Dan juga perempuan-perempuan yang menguap dalam kantuk menunggu mobil pagi yang akan datang menggoda nasibnya menawar harga setandang buah langsat yang ranum di pokoknya
Ini jalan pada gesek roda truk menantang lampu-lampu yang menyilaukan dan aroma asin laut juga hutan perdu serta kota-kota yang letih bersama gardu-gardu yang meringkuk dalam sarung menahan kantuk dan asma
Kelak jika di setiap sudut jalan kota ini orang-orang telah mulai pula membakar ban bekas yang asapnya bisa mengamuk kapan saja. Maka tak kuragu mencoret banyak kota dari peta perjalananku juga dari ingatanku
12-16 Januari 2012



Komentar Terakhir