Selamat datang disini, semoga tak tepis-tepis tangan berjabat erat denganku. Hendaknya hal ini dibaca sebagai sebuah gejala yang coba merangkum kelindang pikiran, perasaan dan boleh juga sikap hidup. Siapapun anda, dari manapun anda. Maka anda adalah saudaraku yang rasanya akan amat bijak jika anda rela untuk meninggalkan jejak di blog ini, kritikan saran bahkan umpatan sekalipun akan amat kami hargai sebagai kemerdekaan anda untuk melihat ini sebagai sebuah gejala. Salam kreatif…
Sentakan
•22 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentartelah terurai sejarah, layaknya cacing mengurai tanah
melulu seperti itu
sejak dulu, memang begitu
yah, tetap saja seperti itu
sehingga kita harus tertumbuk pada jalan yang tak kunjung usai
tak beranjak, tak pula beringsut
kangenlah yang selalu mengingatkan akan sebuah kehilangan
menyergap sepi dalam kesendirian
menegaskan kata yang tak bermakna
seperti langkah yang tak pasti dan sempoyongan
sampai hari ini, luka kembali kita sayat-sayat
sebab teriakanpun tak lagi bisa menampung kelukaan yang tak pasti
kesurupan namun juga tak pasti, apalagi bernilai
rindu, kangen,
lalu pelan dan pasti kita berangkulan, bertubrukan
jatuh dan tersuruk dalam sepi
Makassar, 27 November 2000
Pada Dingin Kita Keramas
•18 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentartelah lama kukenal kamu dari cerita dan berita
telah lama kumimpi kamu dari ilusi dan pengharapan
tetapi kali ini kita berkenalan di usai rinai panjang malam yang binal
yah, ditengah gemuruh cekikikan pengunjung menggeser gemericik airmu
diantara selimut dinginmu yang menyulamku dan membetot sukma
embun kabutmu membuat mataku berjelaga dalam gamang tak karuang
pada pundak dan dingin malammu kembali kukorek-korek
senggama, luka-lukaku yang memang tak pernah berujung
menggigil benar malam ini dalam senyum sumringah para pecinta
seusai mengoyak kegadisan dan keluguan
yang juga berarti mengoyak luka
sebagai perilaku para pendosa
Malino, 25 November 2000
Insiden
•18 Juli 2009 • 1 Komentardengan angkot aku pulang, kepada gadis putih yang berok mini
larut telah mengepak sayap-sayapnya
tangis mengisyaratkan usainya sebuah pertikaian
rambut dan parfum mengisyaratkan sebuah gelitikan
tapi tak tahu malam ini rembulanmu akan rebah dimana
pada pantat basah ditumpahi buih bir
katamu barusan kamu dikeloni
ayo kita pulang ke rumah batinku malam ini
biar pipi ranummu yang basah
kusapu dengan kumisku yang mulai mengeras
seraya menunjukkan kelewang tetuahku
yang membantai di sebuah insiden dini hari
biar hati tak lagi gundah mengurai sejarah, mempetakan masa depan
jangan takut kamu mengangkang sebab hidup butuh ketegasan
bukan mimpi yang abu-abu
pagi sekali kamu pamit yang tersisa hanya buih bir
tumpah di kumisku yang mulai meletih
mengisyaratkan kelewangku telah mengurai sejarah masa lalunya
dengan insiden kecil pembantaian di sebuah dini hari yang menggigil
Makassar, 8 November 2000
Kecupan yang Kepagian
•18 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentartak tahu berawal dari mana
tak tahu akan berankhir dimana
karena satu kamu telah hadir
kita satu dalam atmosphere ketidak tahuan
kita pecah dalam ektasy ketidak mengertian
dan kita hanya bisa memaknai dengan segenap rasa dan nurani
seperti kais dan laila, seperti sampek dan engtai, seperi romeo dan yuliette
para dewa bersiul mafhum
para pecinta mulai menggelandang
para pemikir mulai menganalisa
kita nikmati saja hari ini, macam bumi yang setia dicucup akar tetumbuhan
luka, luka, luka, luka, luka, luka
selamat pagi cinta dan nuraniku
selamat malam duhai naluriku
ayo kita gelitik rasa ini
sembari menterjemahkan sajak-sajak kahlil gibran dan mahfudz
biar kita sibak tabir dengan kegamangan
Makassar, 28 September 2000
Ada Apa Gadis Bangsa
•18 Juli 2009 • 1 Komentarkuintip matahari yang mulai menguning pertanda bakal terlelap
di sela pohon kapuk dan daun pisang
sebentar tampak, sebentar hilang
di sebuah pondokan tak lebih
suara parau cekikikan anak bangsa berkelaminkan perempuan
panas siang tadi, pada sumur yang keruh dan mengering
kepada bantal berkepinding pengganjal pantat sang gadis bangsa
dalam lenguh ketika keenakan oleh gelitik teman se fakultas
malam merambat datang, matahari lenyap ditelan lautan
sang gadis menyeka keringat, mari kita tidur kakanda
dekap daku seperti diktat baru mendekap ilmu dan penalaran
sebentar lagi subuh, sudah itu kita bangun
masuk kampus melahap buku, seraya berteriak selamat pagi indonesia
Makassar, 27 September 2000
Tawon dan Bohlamp
•18 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentarsedikitnya sepuluh tawon satu bohlamp mulai bercanda
cahaya berpendar dari bohlamp
tawon mondar mandir mengikuti alunan musik
randai, saluang, sayang-sayang, onang-onang, daden date menyatu dalam ektasy
pusing-pusing jatuh kelantai terinjak oleh pejabat
sakit perih, sudah itu bengkak
pincang dientup tawon yang juga sudah sekarat
di negeri agraria memang menawarkan banyak tawon
untuk dikemas dalam berbotol-botol madu
minuman pejabat pengganti lendir
agar tak lemas terlentang disamping istri simpanan
sementara bohlamp byar pet mengintip pejabat tanpa singlet dan cawat
di sekat kamar hotel berbintang
ponsel dimatikan biar anak bini
tidak memesan kembang gula dari rumah jabatan
Kandeapi, 18 September 2000
Berisik
•18 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentarorang pusat ngoceh politik
orang pusat ngoceh hukum
orang pusat ngoceh ekonomi
orang pusat ngoceh hankamnas
orang pusat ngoceh kebudayaan
orang pelosok nyerocos perimbangan
orang pelosok nyerocos rasialisme
orang pelosok nyerocos harga gabah
orang pelosok nyerocos pembebasan lahan
orang pelosok nyerocos pelantikan tetuah adat
berisik benar negeri ini
sementara pusat mengangkangi
pelosok ikhlas saja, sebab ia juga mengangkangi dusun-dusun
lalu melahirkan anak-anak pasih ngoceh dan nyerocos saban waktu
ketika anak tertidur, sebuh radio transistor mendendangkan blues dan jazz
menegaskan partitur sebuah pesan pemberontakan,
karena terlanjur ia lahir dari kesiur suara-suara yang memekik-mekik
Kandeapi, 17 September 2000
Kabar Sebuah Negeri yang Biadab
•18 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentaratas nama hukum, penangkapan dimulai
atas nama hukum, berita acara diketik
atas nama hukum anak bangsa di gelandang ke kerangkeng
tetapi, atas nama apa orang di jewer
tetapi, atas nama apa orang ditendang
tetapi, atas nama apa orang ditumbuk
tetapi, atas nama apa orang dijotos
tetapi, atas nama apa orang diinjak
tetapi, atas nama apa orang dipukuli
ketika interogasi dilangsungkan ?
jidat berdarah hukum bernanah
mata rabun menatap hukum ataukah penjajahan
hak asasi dinilai dengan sepatu lars
wibawa dimaknai dengan selipan duit di lengan baju
lugu atau biadabkah wajah kita ?
silahkan tuan jawab, itupun kalau tuan tidak malu
Kandeapi,16 September 2000
Bulan Mengunyah Bumi
•18 Juli 2009 • & Komentarlengang dan sepi kudatang lagi di kampung ini
kesiur busorbusor mendebat rembulan yang merana
layangan itu menggapai rembulan
tepat ketika rembulan ingin mengunyah bumi
karena bumi tak lagi damai oleh ulah kaum bar-bar
“lebih baik aku menelan bumi,” kata rembulan dengan senyum menyeringai
gersang benar kampung ini seperti kematian tanpa obituari
rembulan terpeleset dan terperosok ke dalam sungai
terbawa arus hingga ke akhir muara yang asin dan amis
lusuh, dingin dan kumal, bulan menepi dikerubuti layangan
layangan menusuk, menabrak dan menerabas rembulan
dipusar labirin yang meliuk dalam kecepatan cahaya
Kandeapi, 15 September 2000
Sekarat
•8 Juli 2009 • Tinggalkan sebuah Komentarteringat belatimu menghunjam lambungku
teringat nyawaku meregang
ketika darah mengucur dari ususku yang terburai
saat itu hidup tak lagi diharapkan
sebab hidup memang tak lagi berpengharapan
belum tuntas ucapku
seketika parang panjang kau cucupkan ke punggungku
mati aku
sebuah sajak belum tuntas
keburu hitam pekat yang kelam menguasaiku setelah itu
kaku berjelaga
Kandeapi, 14 September 2000




Komentar Terakhir