Oleh: Muhammad Syariat Tajuddin | 16 Januari 2012

Perjalanan

Aroma kota-kota dan bising terminal yang ditinggal datang dan pergi juga kertas-kertas tissue kusut masai oleh hujan yang menabrak musim

Atau kaleng minuman penyok yang dibuang oleh perempuan yang memburu kekasihnya dari atas jendela sebuah bus yang kekar

Lajulah waktu-waktu menuju persinggahan yang tak pernah ketemu ruang istirah dan tissue itu menjadi serupa bangku-bangku terminal menua dalam penungguan dan setia menampung cerita tentang kepergian, kepulangan dan penat

Demikianlah, kali ini juga adalah perjalanan yang tak pernah dimulai juga tak pernah berhenti hingga ingatan kembali mekar sebelum ia sempat rontok

Tidak sesetia pembatas lajur kanan kiri jalan pada malam-malam yang bisu seperti pisau yang teronggok di dapur dan bengkok

Kukabari kau tentang dentum lagu dangdut tatkala jalan ini kian bergerak lincah serupa burung mandar menerbangi zaman, pulau dan musim

Dan juga perempuan-perempuan yang menguap dalam kantuk menunggu mobil pagi yang akan datang menggoda nasibnya menawar harga setandang buah langsat yang ranum di pokoknya

Ini jalan pada gesek roda truk menantang lampu-lampu yang menyilaukan dan aroma asin laut juga hutan perdu serta kota-kota yang letih bersama gardu-gardu yang meringkuk dalam sarung menahan kantuk dan asma

Kelak jika di setiap sudut jalan kota ini orang-orang telah mulai pula membakar ban bekas yang asapnya bisa mengamuk kapan saja. Maka tak kuragu mencoret banyak kota dari peta perjalananku juga dari ingatanku

12-16 Januari 2012

Oleh: Muhammad Syariat Tajuddin | 10 Desember 2011

Kabarmu Desember

apa kabarmu desember
kau menoleh sejenak
lalu melangkah gesa

apa kabarmu desember
kau melesat seperti angin
yang gegas dan kesusu

apa kabarmu desember
adakah kita tak lagi sempat
menjerang puisi dalam gemuruh

apa kabarmu desember
tahukah kau puisi ini mulai dingin
sepi gigil dan mentah

apa kabarmu desember
kini tak ada biola yang gesek
atau kecapi yang denting

11 desember 2011

Oleh: Muhammad Syariat Tajuddin | 22 Juli 2009

Sentakan

telah terurai sejarah, layaknya cacing mengurai tanah
melulu seperti itu
sejak dulu, memang begitu
yah, tetap saja seperti itu
sehingga kita harus tertumbuk pada jalan yang tak kunjung usai
tak beranjak, tak pula beringsut
kangenlah yang selalu mengingatkan akan sebuah kehilangan
menyergap sepi dalam kesendirian
menegaskan kata yang tak bermakna
seperti langkah yang tak pasti dan sempoyongan
sampai hari ini, luka kembali kita sayat-sayat
sebab teriakanpun tak lagi bisa menampung kelukaan yang tak pasti
kesurupan namun juga tak pasti, apalagi bernilai
rindu, kangen,
lalu pelan dan pasti kita berangkulan, bertubrukan
jatuh dan tersuruk dalam sepi

Makassar, 27 November 2000

Oleh: Muhammad Syariat Tajuddin | 18 Juli 2009

Pada Dingin Kita Keramas

telah lama kukenal kamu dari cerita dan berita
telah lama kumimpi kamu dari ilusi dan pengharapan
tetapi kali ini kita berkenalan di usai rinai panjang malam yang binal
yah, ditengah gemuruh cekikikan pengunjung menggeser gemericik airmu
diantara selimut dinginmu yang menyulamku dan membetot sukma
embun kabutmu membuat mataku berjelaga dalam gamang tak karuang
pada pundak dan dingin malammu kembali kukorek-korek
senggama, luka-lukaku yang memang tak pernah berujung
menggigil benar malam ini dalam senyum sumringah para pecinta
seusai mengoyak kegadisan dan keluguan
yang juga berarti mengoyak luka
sebagai perilaku para pendosa

Malino, 25 November 2000

Oleh: Muhammad Syariat Tajuddin | 18 Juli 2009

Insiden

dengan angkot aku pulang, kepada gadis putih yang berok mini
larut telah mengepak sayap-sayapnya
tangis mengisyaratkan usainya sebuah pertikaian
rambut dan parfum mengisyaratkan sebuah gelitikan
tapi tak tahu malam ini rembulanmu akan rebah dimana
pada pantat basah ditumpahi buih bir
katamu barusan kamu dikeloni
ayo kita pulang ke rumah batinku malam ini
biar pipi ranummu yang basah
kusapu dengan kumisku yang mulai mengeras
seraya menunjukkan kelewang tetuahku
yang membantai di sebuah insiden dini hari
biar hati tak lagi gundah mengurai sejarah, mempetakan masa depan
jangan takut kamu mengangkang sebab hidup butuh ketegasan
bukan mimpi yang abu-abu
pagi sekali kamu pamit yang tersisa hanya buih bir
tumpah di kumisku yang mulai meletih
mengisyaratkan kelewangku telah mengurai sejarah masa lalunya
dengan insiden kecil pembantaian di sebuah dini hari yang menggigil

Makassar, 8 November 2000

Oleh: Muhammad Syariat Tajuddin | 18 Juli 2009

Kecupan yang Kepagian

tak tahu berawal dari mana
tak tahu akan berankhir dimana
karena satu kamu telah hadir
kita satu dalam atmosphere ketidak tahuan
kita pecah dalam ektasy ketidak mengertian
dan kita hanya bisa memaknai dengan segenap rasa dan nurani
seperti kais dan laila, seperti sampek dan engtai, seperi romeo dan yuliette
para dewa bersiul mafhum
para pecinta mulai menggelandang
para pemikir mulai menganalisa
kita nikmati saja hari ini, macam bumi yang setia dicucup akar tetumbuhan
luka, luka, luka, luka, luka, luka
selamat pagi cinta dan nuraniku
selamat malam duhai naluriku
ayo kita gelitik rasa ini
sembari menterjemahkan sajak-sajak kahlil gibran dan mahfudz
biar kita sibak tabir dengan kegamangan

Makassar, 28 September 2000

Oleh: Muhammad Syariat Tajuddin | 18 Juli 2009

Ada Apa Gadis Bangsa

kuintip matahari yang mulai menguning pertanda bakal terlelap
di sela pohon kapuk dan daun pisang
sebentar tampak, sebentar hilang
di sebuah pondokan tak lebih
suara parau cekikikan anak bangsa berkelaminkan perempuan
panas siang tadi, pada sumur yang keruh dan mengering
kepada bantal berkepinding pengganjal pantat sang gadis bangsa
dalam lenguh ketika keenakan oleh gelitik teman se fakultas
malam merambat datang, matahari lenyap ditelan lautan
sang gadis menyeka keringat, mari kita tidur kakanda
dekap daku seperti diktat baru mendekap ilmu dan penalaran
sebentar lagi subuh, sudah itu kita bangun
masuk kampus melahap buku, seraya berteriak selamat pagi indonesia

Makassar, 27 September 2000

Oleh: Muhammad Syariat Tajuddin | 18 Juli 2009

Tawon dan Bohlamp

sedikitnya sepuluh tawon satu bohlamp mulai bercanda
cahaya berpendar dari bohlamp
tawon mondar mandir mengikuti alunan musik
randai, saluang, sayang-sayang, onang-onang, daden date menyatu dalam ektasy
pusing-pusing jatuh kelantai terinjak oleh pejabat
sakit perih, sudah itu bengkak
pincang dientup tawon yang juga sudah sekarat
di negeri agraria memang menawarkan banyak tawon
untuk dikemas dalam berbotol-botol madu
minuman pejabat pengganti lendir
agar tak lemas terlentang disamping istri simpanan
sementara bohlamp byar pet mengintip pejabat tanpa singlet dan cawat
di sekat kamar hotel berbintang
ponsel dimatikan biar anak bini
tidak memesan kembang gula dari rumah jabatan

Kandeapi, 18 September 2000

Oleh: Muhammad Syariat Tajuddin | 18 Juli 2009

Berisik

orang pusat ngoceh politik
orang pusat ngoceh hukum
orang pusat ngoceh ekonomi
orang pusat ngoceh hankamnas
orang pusat ngoceh kebudayaan
orang pelosok nyerocos perimbangan
orang pelosok nyerocos rasialisme
orang pelosok nyerocos harga gabah
orang pelosok nyerocos pembebasan lahan
orang pelosok nyerocos pelantikan tetuah adat
berisik benar negeri ini
sementara pusat mengangkangi
pelosok ikhlas saja, sebab ia juga mengangkangi dusun-dusun
lalu melahirkan anak-anak pasih ngoceh dan nyerocos saban waktu
ketika anak tertidur, sebuh radio transistor mendendangkan blues dan jazz
menegaskan partitur sebuah pesan pemberontakan,
karena terlanjur ia lahir dari kesiur suara-suara yang memekik-mekik

Kandeapi, 17 September 2000

Oleh: Muhammad Syariat Tajuddin | 18 Juli 2009

Kabar Sebuah Negeri yang Biadab

atas nama hukum, penangkapan dimulai
atas nama hukum, berita acara diketik
atas nama hukum anak bangsa di gelandang ke kerangkeng
tetapi, atas nama apa orang di jewer
tetapi, atas nama apa orang ditendang
tetapi, atas nama apa orang ditumbuk
tetapi, atas nama apa orang dijotos
tetapi, atas nama apa orang diinjak
tetapi, atas nama apa orang dipukuli
ketika interogasi dilangsungkan ?
jidat berdarah hukum bernanah
mata rabun menatap hukum ataukah penjajahan
hak asasi dinilai dengan sepatu lars
wibawa dimaknai dengan selipan duit di lengan baju
lugu atau biadabkah wajah kita ?
silahkan tuan jawab, itupun kalau tuan tidak malu

Kandeapi,16 September 2000

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.